Rabu, 28 Mei 2014

Sistem Loop Terbuka Dan Sistem Loop Tertutup

 
Sistem Kontrol Loop Terbuka dan Sistem Kontrol Loop Tertutup
Sistem Kontrol Loop Terbuka
Sistem kontrol loop terbuka adalah suatu sistem yang keluarannya tidak mempunyai pengaruh terhadap aksi kontrol. Artinya, sistem kontrol terbuka keluarannya tidak dapat digunakan sebagai umpan balik dalam masukkan.    
   

Gambar Sistem Kontrol Loop Terbuka 
 Dalam suatu sistem kontrol terbuka, keluaran tidak dapat dibandingkan dengan masukan acuan. Jadi, untuk setiap masukan acuan berhubungan dengan operasi tertentu, sebagai akibat ketetapan dari sistem tergantung kalibrasi. Dengan adanya gangguan, sistem control terbuka tidak dapat melaksanakan tugas yang sesuai diharapkan. Sistem kontrol terbuka dapat digunakan hanya jika hubungan antara masukan dan keluaran diketahui dan tidak terdapat gangguan internal maupun eksternal.
Ciri - Ciri Sistem Kontrol Loop Terbuka :
1)      Sederhana
2)      Harganya murah
3)      Dapat dipercaya
4)      Kurang akurat karena tidak terdapat koreksi terhadap kesalahan
5)      Berbasis waktu
Kinerja Sistem Kontrol Loop Terbuka :
1)      Kontrol terbuka sesuai untuk sistem operasi gerak robot dengan aktuator yang berdasarkan pada umpan logika berbasis langkah sekuensial (urutan program)
2)      Tidak menggunakan sensor untuk mengetahui posisi akhir
3)      Dapat diatur dengan menggunakan delay
4)      Cocok untuk robot sistem mapping
Contoh Aplikasi Sistem Loop Terbuka :
A.      Pengontrol lalu lintas berbasis waktu
B.      Mesin cuci
C.      Oven listrik
D.      Tangga berjalan
E.       Rolling detector pada bandara
Contoh Sistem Operasi Pada Mesin Cuci:
                Penggilingan pakaian, pemberian sabun, dan pengeringan yang bekerja sebagai operasi mesin cuci tidak akan berubah (hanya sesuai dengan yang diinginkan seperti semula) walaupun tingkat kebersihan pakaian (sebagai keluaran sistem) kurang baik akibat adanya factor-faktor yang kemungkinan tidak di prediksi sebelumnya. 
Gambar Operasi Mesin Cuci
Sistem Kontrol Loop Tertutup
                Sistem Kontrol loop tertutup adalah sistem kontrol yang sinyal keluarannya mempunyai pengaruh langsung pada aksi pengontrolan. Sistem kontrol loop tetrtutup juga merupakan sistem control berumpan balik. Sinyal kesalahan penggerak, yang merupakan selisih antara sinyal masukan dan sinyal umpan balik (yang dapat berupa sinyal keluaran atau suatu fungsi sinyal keluaran atau turunannya). Diumpankan ke kontroler untuk memperkecil kesalahan dan membuat agar keluaran sistem mendekati harga yang diinginkan. Dengan kata lain, istilah “loop tertutup” berarti menggunakan aksi umpan balik untuk memperkecil kesalahan sistem.
Gambar Sistem Loop Tertutup
                Gambar diatas menunjukan hubungan masukan dan keluaran dari sistem kontrol loop tertutup. Jika dalam hal ini manusia bekerja sebagai operator, maka manusia ini akan menjaga sistem agar tetap pada keadaan yang diinginkan, ketika terjadi perubahan pada sistem maka manusia akan melakukan langkah-langkah awal pengaturan sehingga sistem kembali bekerja pada keadaan yang diinginkan.
Komponen proses sistem kontrol loop tertutup :
1)      Reference Input (masukan acuan,r), merupakan sinyal acuan bagi sistem kontrol
2)      Actuating Signal (e), merupakan sinyal kesalahan / error yang merupakan selisih antara sinyal acuan (r) dan sinyal (b)
3)      Control Element, (g1) merupakan element yang berfungsi untuk memproses kesalahan/error yang terjadi dan setelah kesalahan tersebut dimasukan melalui element pengontrol
4)      Manipulated Variable (variabel yang dimanipulasi), merupakan sinyal yang dihasilkan oleh control element yang berfungsi sebagai sinyal pengontrol tanpa adanya gangguan
5)      Plant/proses, merupakan obyek fisik yang dikontrol, dapat berupa proses mekanis, elektris, hidraulis maupun gabungannya
6)      Disturbance, merupakan sinyal gangguan yang tidak diinginkan
7)      Feedback Element (jalur umpan balik), merupakan bagian sistem yang mengukur keluaran yang dikontrol dan kemudian mengubahnya menjadi sinyal umpan balik
8)      Forward Path, merupakan bagian sistem tanpa umpan balik
Komponen Sistem Kontrol Loop Tertutup :
1)      Input (masukan), merupakan rangsangan yang diberikan pada sistem kontrol, merupakan harga yang diinginkan bagi variabel yang dikontrol selama pengontrolan. Harga ini tidak tergantung pada keluaran sistem
2)      Output (keluaran,respons), merupakan tanggapan pada sistem kontrol, merupakan harga yang akan dipertahankan bagi variabel yang dikontrol, dan merupakan harga yang ditunjukan oleh alat pencatat
3)      Beban/Plant, merupakan sistem fisis yang akan dikontrol (misalnya mekanis, elektris, hidraulik ataupun pneumatic)
4)      Alat kontrol/controller, merupakan peralatan/ rangkaian untuk mengontrol beban (sistem). Alat ini bisa digabung dengan penguat
5)      Elemen Umpan Balik, menunjukan/mengembalikan hasil pencatan ke detector sehingga bisa dibandingkan terhadap harga yang diinginkan (di stel)
6)      Error Detector (alat deteksi kesalahan), merupakan alat pendeteksi kesalahan yang menunjukan selisih antara input (masukan) dan respons melalui umpan balik (feedback path)
7)      Gangguan merupakan sinyal-sinyal tambahan yang tidak diinginkan. Gangguan ini cenderung mengakibatkan harga keluaran berbeda dengan harga masukanya, gangguan ini biasanya disebabkan oleh perubahan beban sistem, misalnya adanya perubahan kondisi lingkungan, getaran ataupun yang lain
Contoh Aplikasi Sistem Kontrol Loop Tertutup :
A.      Servomekanisme
B.      Sistem pengontrol proses
C.      Lemari Es
D.      Pemanas Air Otomatik
E.       Kendali Termostatik
F.       AC
Contoh Sistem Operasi Pada Pendingin Udara (AC) :
                Masukan dari sistem AC adalah derajat suhu yang diinginkan oleh pemakai. Keluaranya berupa udara dingin yang akan mempengaruhi suhu ruangan sehingga suhu ruangan diharpakan akan sama dengan suhu yang diinginkan. Dengan memberikan umpan balik berupa derajat suhu ruangan setelah diberikan aksi udara dingin, maka akan didapatkan kesalahan (error)dari derajat suhu actual dengan derajat suhu yang diinginkan. Adanya keslahan ini membuat kontroler berusaha memperbaikinya, sehingga didapatkankesalahan yang semakin mengecil.
Gambar Proses Umpan Balik Pendingin Udara
Sumber :
http://budi2one.blogspot.com/2014/05/sistem-loop-terbuka-dan-sistem-loop.html

Rabu, 23 April 2014

Penggunaan Mesin Minuman Secara Otomatis

Penggunaan Mesin Minuman
 Struktur Looping
Langkah-langkah Penggunaan Mesin Minuman :
1.       Pertama-tama tukarkan uang kertas anda dengan uang koin
2.       Lihat harga minuman yang akan anda beli
3.       Setelah itu masukan uang koin anda ke dalam mesin minuman ke tempat masukkan yang sudah tersedia
4.       Di dalam tempat mesin minuman terdapat kode di setiap minuman seperti pada baris pertama “A1-A8”, pada baris ke-2 “B1-B8”, dan pada baris ke-3 “C1-C8”
5.       Setelah anda memasukan koin sesuai harga yang tertera di mesin minuman, kemudian kita pilih dengan cara : pilih dan tekan tombol yang ada pada mesin minuman, misalnya kita akan memilih minuman dengan bernomor “B2” maka pada tombol, anda tekan huruf “B” dan angka “2” kemudian tekan tombol “Yes (Y)”, jika anda tidak jadi memilih minuman bernomor “B2” maka anda tekan tombol “N (No)”
6.       Jika anda sudah memilih dan sudah menekan tombol “Y”, mesin secara otomatis akan mengambil minuman yang sudah anda pesan, kemudian akan dikirim ke tempat pengambilan minuman
7.       Setelah minuman tersedia di tempat pengambilan minuman, maka selanjutnya dengan menekan tombol “O (Open)” untuk membuka pintu tempat pengambilan minuman
8.       Kemudian setelah itu tekan tombol “C (Close)” untuk menutup kembali tempat pengambilan minuman
9.       Program selesai
Sumber :
http://budi2one.blogspot.com/2014/05/penggunaan-mesin-minuman-secara-otomatis.html

Selasa, 25 Maret 2014

Pembuatan Catu Daya +5 Volt dan -5 Volt

 
CATU DAYA + 5 Volt dan -5 Volt
Pengertian Catu Daya
                Catu daya atau power suplay adalah suatu rangkaian elektronik yang mengubah arus listrik bolak-balik (AC) menjadi arus listrik searah (DC). Hampir semua peralatan elektronik membutuhkan catu daya. Ada beberapa peralatan elektronik seperti radio dan tape yang masih membutuhkan baterai sebagai sumber arusnya. Namun untuk mempermudah agar kita tidak tergantung dengan baterai, maka dibuatlah alat yang dapat mengubah arus listrik dari PLN menjadi arus listrik searah. Dalam aplikasinya catu daya banyak kegunaannya dan manfaatnya, terutama dalam penggunaan peralatan elektronik yang membutuhkan catu daya. Contohnya : radio, tape, hape, laptop dan masih banyak peralatan elektronik lainnya yang membutuhkan yang namanya catu daya.
Komponen pembuatan catu daya
                Dalam pembuatan catu daya yang akan saya uraikan ini adalah tentang pembuatan catu daya dengan keluaran + 5 volt dan -5 volt. Adapun komponennya adalah sebagai berikut:
1.       Transformator
2.       Diode sebagai penyearah
3.       Kapasitor
4.       Resistor
5.       Inductor
6.       Transistor
7.       Ic
Pada rangkaian penyearah yang hanya menggunakan dioda penyearah masih memiliki sinyal ac sehingga belum searah seperti halnya tegangan dc pada baterai. Sinyal ac yang tidak diinginkan ini dinamakan ripple. Faktor ripple adalah besarnya prosentase perbandingan antara tegangan ripple dengan tegangan dc yang dihasilkan.
Untuk memperkecil nilai ripple dapat digunakan filter kapasitor. Semakin besar nilai kapasitor maka akan semakin kecil nilai tegangan ripple. Untuk memperoleh suatu catu daya dengan nilai keluaran yang tetap, maka dapat digunakan sebuah IC regulator 78xx untuk catu daya positif dan IC regulator 79xx untuk catu daya negatif. (xx adalah nilai tegangan yang dikeluarkan dari regulator tersebut)
1.        Transformator
Merupakan sebuah komponen elektronik yang berguna untuk menurunkan tegangan dengan tipe CT (center). Trafo jenis ini memiliki keluaran tegangan yang simetris pada kumparan sekundernya yang dibatasi oleh sebuah garis tengah CT. Karakteristik trafo CT sebagai berikut :
·         Tegangan Input primer : 110V / 220V @ AC 50 Hz
·         Tegangan Output Sekunder : 3V/4,5V/6V/7,5V/9V/12V/18V/24V
·         Arus output sekunder : 0,5 – 10 Ampere
            Trafo CT biasa digunakan pada rangkaian catu daya sebagai penurun tegangan dari tegangan PLN (220V) menjadi tegangan yang lebih rendah.
2.      Dioda Bridge
            Dioda bridge adalah diode silikon yang dirangkai menjadi suatu bridge dan dikemas menjadi satu kesatuan komponen dan biasa digunakan sebagai penyearah pada rangkaian catu daya. Ukuran diode bridge yang utama adalah voltage dan ampere maksimumnya.
3.       Kapasitor Polar
            Elektroda pada kapasitor polar terbuat dari bahan alumunium yang menggunakan membrane oksidasi tipis. Karakteristik utama kapasitor polar adalah perbedaan polaritas pada kedua kakinya. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati saat memasangnya pada rangkaian. Jika pemasangannya terbalik, kapasitor akan rusak bahkan meledak. Biasanya, tegangan kerja kapasitor sebesar 2 kali tegangan catu daya. Misalnya, kapasitor diberikan catu daya dengan tegangan 5 volt, artinya kapasitor harus memiliki tegangan kerja minimum 2x5 = 10 volt. Umumnya kapasitor polar digunakan pada rangkaian catu daya, low pass filter, dan rangkaian pewaktu. Kapasitor ini tidak bisa digunakan pada rangkaian dengan frekuensi tinggi.
4.       Resistor
            Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam suatu rangkaian. Resistor bersifat resistif dan umumnya  terbuat dari bahan karbon. Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan simbol W (Omega).  Bentuk resistor yang umum adalah seperti tabung dengan dua kaki di kiri dan kanan. Pada badannya terdapat lingkaran membentuk cincin kode warna untuk mengetahui besar resistansi tanpa mengukur besarnya dengan Ohmmeter.
5.       Resistor Daya
            Resistor ini digolongkan sebagai resistor power karena bessarnya dispasi daya yang dapat ditahan. Bentuknya sama dengan resistor pada umumnya tetapi ukurannya lebih besar.
Transistor TIP2955
            Merupakan jenis NPN transistor daya negative yang biasa digunakan bersama transistor 3055. Karakteristik transistor TIP2955 sebagai berikut :
·         Tegangan maksimum kolektor-emitor (Vce): -70 volt
·         Tegangan maksimum kolektor-basis (Vcb): -100 volt
·         Tegangan maksimum emitor-basis (Veb); -7 volt
·         Arus kolektor konstan : 15 Ampere
·         Dispasi daya: 90 watt
·         Kemasan : SOT-93
6.      IC Regulator
78xx
Merupakan IC regulator/penurun linier tegangan positif arus DC. Nilai xx pada seri 78 adalah nilai tegangan keluaran yang diinginkan. Misalnya, 7805 akan mengeluarkan tegangan 5 volt. Karakteristik IC 78xx Sebagai berikut :
·         Tegangan catu daya minimum = 7 volt
·         Tegangan catu daya maksimum = 40 volt
·         Nilai tegangan keluaran berdasarkan kode xx = 5,6,8,9,10,12,18,24 volt
·         Arus keluaran maksimum = 1 Ampere
·         Tipe regulasi tegangan = linier
·         Kemasan = TO-220
79xx
            Merupakan IC regulator/penurun linier tegangan negatif arus DC. Nilai xx pada seri 79 adalah nilai tegangan keluaran yang diinginkan. Misalnya, 7905 akan mengeluarkan tegangan 5 volt. Karakteristik IC 79xx Sebagai berikut :
·         Tegangan catu daya minimum = -25 volt
·         Tegangan catu daya maksimum = -7 volt
·         Nilai tegangan keluaran berdasarkan kode xx = -5,-6,-8,-9,-10,-12,-18,-24 volt
·         Arus keluaran maksimum = 1 Ampere
·         Tipe regulasi tegangan = linier
·         Kemasan = TO-220
7.      LED
 Karakteristik LED :
·         Warna Cahaya: - super bright red (624-630 nm)
·         super bright green (567-573 nm)
·         Jenis Lensa : white clear
·         Tegangan maju diode : 2,1-3,2 volt
·         Arus maju diode : 20mA
·         Material LED : lnGaN-GaAllnP
8.      Fuse / Sekering
            Suatu peralatan proteksi yang umum digunakan, Sekering adalah suatu peralatan proteksi kerusakan yang disebabkan oleh arus berlebihan yang mengalir dan memutuskan rangkaian dengan meleburannya elemen sekering.
                                         Gambar Rangkaian Catu Daya +5 Volt dan -5 Volt


                                 Gambar FlowChart Rangkaian Catu Daya +5 Volt dan -5 Volt
Peralatan yang dibutuhkan
1)      Obeng
2)      Gergaji besi mini
3)      Tang penjepit
4)      Solder
5)      Tang potong
6)      Timah
7)      Konektor
8)      Kabel
9)      Multimeter
10)   Saklar on/off
11)   Penyedot timah
12)   Mur
13)   Sekrup
14)   Bor mini
15)   Nampan
Bahan yang dibutuhkan
1)      Papan PCB
2)      Larutan FeCl3
3)      Kertas kalender
Langkah - langkah pembuatan catu daya +5 volt dan -5 volt
1)      Membuat jalur PCByang telah didesain sebelumnya pada software yang telah disediakan
2)      Teliti kembali jalur yang telah dibuat agar tidak salah
3)      Jika benar-benar siap, selanjutnya di print dengan menggunakan kertas kalender
4)      Persiapkan PCB yang akan dibuat
5)      Tempelkan dari jalur PCB pada kertas kalender ke papan PCB dengan menggunakan pemanas
6)      Setelah pemanasan selesai, biarkan jalur PCB tersebut sampai dingin
7)      Jika papan PCB sudah dingin, rendam papan PCB dengan air selama kurang lebih 30 menit
8)      Persiapkan larutan FeCl3 (feriklorit) pada nampan yang sudah tersedia
9)      Jika PCB benar-benar sudah dingin, masukkan papan PCB tersebut ke larutan FeCl3
10)   Goyang-goyangkan larutan tersebut, agar kadar tembaga yang tidak tertutupi oleh jalur yang telah dibuat cepat hilang
11)   Dan usahakan tembaga yang tidak tertutupi oleh jalur benar-benar bersih
12)   Setelah itu angkat dan bersihkan dengan sikat yang sudah di lumuri sabun pada jalur papan PCB yang bersih
13)   Setelah itu dibor dengan bor mini dengan ukuran 0,8 dan 1 mm pada jalur tersebut
14)   Periksa kembali apakah jalur sudah dibor semua
15)   Pasang komponen pada jalur PCB dengan baik dan benar
16)   Solder pada kaki-kaki komponen yang sudah terpasang PCB
17)   Periksa kembali solderannya apakah ada jalur yang menempel, agar jika saat di coba tidak short
18)   Periksa lagi dengan benar apakah sudah sesuai dengan gambar rangkaian dari input sampai outputnya
19)   Tempatkan PCB rangkaian catu daya tersebut pada box, agar terjaga kerapiannya
20)   Catu daya dengan keluaran +5 volt dan -5 volt, selesai dan siap digunakan
Mudahkan !!!!!!!!!
Jika berminat silahkan buat,
yang terpenting setelah semua rangkaian catu daya tersebut selesai, ukur dengan menggunakan alat multimeter untuk mengukur tegangan keluarannya. Jika keluaran/outputnya m,endekati +5 volt dan -5 volt, maka rangkaian catu daya tersebut berhasil.
Sumber:

Rabu, 18 Desember 2013

Depresiasi

Teori Depresiasi, Metode dalam Depresiasi dan Contoh - Contoh  Kasusnya

 

Depresiasi adalah penurunan dalam nilai fisik properti seiring dengan waktu dan penggunaannya. Dalam
konsep akuntansi, depresiasi adalah pemotongan tahunan terhadap pendapatan sebelum pajak sehingga
pengaruh waktu dan penggunaan atas nilai aset dapat terwakili dalam laporan keuangan suatu
perusahaan.
Depresiasi adalah biaya non-kas yang berpengaruh terhadap pajak pendapatan.
Properti yang dapat didepresiasi harus memenuhi ketentuan berikut:
1. Harus digunakan dalam usaha atau dipertahankan untuk menghasilkan pendapatan.
2. Harus mempunyai umur manfaat tertentu, dan umurnya harus lebih lama dari setahun.
3. Merupakan sesuatu yang digunakan sampai habis, mengalami peluruhan/ kehancuran, usang, atau
mengalami pengurangan nilai dari nilai asalnya.
4. Bukan inventaris, persediaan atau stok penjualan, atau properti investasi.
Properti yang dapat didepresiasi dikelompokkan menjadi:
- nyata (tangible): dapat dilihat atau dipegang. Terdiri dari properti personal (personal property) seperti
mesin-mesin, kendaraan, peralatan, furnitur dan item-item yang sejenis; dan properti riil (real property)
seperti tanah dan segala sesuatu yang dikeluarkan dari atau tumbuh atau berdiri di atas tanah tersebut
- tidak nyata (intangible). Properti personal seperti hak cipta, paten atau franchise.

2 Definisi-Definisi

Basis, atau basis harga: biaya awal untuk mendapatkan aset (harga beli ditambah pajak), termasuk biaya
transportasi dan biaya lain sampai aset tersebut dapat digunakan sesuai fungsinya.
Basis (harga) yang disesuaikan: harga awal aset disesuaikan dengan kenaikan atau penurunan yang
diperkenankan. Misal: biaya perbaikan aset dengan umur manfaat lebih dari setahun meningkatkan
basis harga awal, dan kecelakanna atau kecurian menurunkan harga awal.
Nilai (harga) buku: nilai properti (aset) sesuai dengan laporan akuntansi, yang mewakili jumlah modal yang masih diinvestasikan pada aset tersebut. Sama dengan harga awal (termasuk segala penyesuaian) dikurangi dengan pengurangan karena depresiasi. Nilai buku suatu aset pada akhir
tahun ke-k dirumuskan dengan:

(NILAI BUKU)K = Basis harga yang disesuaikan n - kj=I (pengurang n depresiasi)







Nilai buku k basis harga yang disesuaikan - pengurangan depresiasi.
Harga pasar: nilai yang dibayar seorang pembeli kepada penjual aset dimana masing-masing mendapatkan keuntungan dan bertindak tanpa paksaan.
Periode perolehan kembali (recovery period): jumlah tahun dimana basis (harga) suatu aset diperoleh kembali melalui proses akuntansi. Disebut juga umur manfaat (klasik) atau kelas properti atau umur kelas.
Tingkat perolehan kembali: persentase untuk setiap tahun periode perolehan kembali, yang digunakan untuk menghitung pengurangan karena depresiasi tahunan.
Nilai sisa: perkiraan nilai aset pada akhir umur manfaatnya, merupakan harga jula suatu aset jika tidak lagi digunakan untuk proses produksi oleh pemiliknya.
Umur manfaat: perkiraan periode waktu pemakaian aset (properti) dalam kegiatan produktif atau untuk menghasilkan pendapatan.
3 Metode Perhitungan Depresiasi
Secara umum, metode perhitungan depresiasi dibagi dua, yaitu:
1. Metode klasik, terdiri dari:
a. Metode garis lurus (straight-line, SL)
b. Metode declining balance (DB)
c. Metode sum-of-the-years-digits (SYD)
2. Sistem perolehan biaya dipercepat termodifikasi (Modified Accelerated Cost Recovery System, MACRS)


Metode Garis Lurus
Metode ini mengasumsikan bahwa aset terdepresiasi secara konstan setiap tahunnya selama umur manfaatnya.  

Cara Penyusutan : - Linier
                                    - Cembung
                                    - Cekung


1. Garis Lurus (Linier)/Straight Line Depreciation





dk= (B-SVN): N
dk* = k dk untuk1k N
BVk = B-dk*

Atau





dimana:
N = umur manfaat
B = basis harga, termasuk penyesuaian
dk = pengurangan depresiasi pada tahun ke k (1 k N)
BVk = nilai buku pada akhir tahun ke k
SVN = perkiraan nilai sisa pada akhir tahun ke N
*
k d = depresiasi kumulatif selama tahun ke k
Contoh 1:
I           = 100 jt
L          = 20 jt
N         = 5 Th
dn = d= (100 jt - 20 jt):5 = Rp 16 jt




- Depresiasi s/d tahun ke-3 = D3 = 3 d = 3 x Rp 16 jt = Rp 48 jt
- Nilai buku tahun ke-3    B3       = I – D3
                                                = 100 jt – 48 jt
                                                = 52 jt
 



Metode Declining Balance
Disebut juga metode persentase konstan atau formula Matheson, dengan asumsi bahwa biaya depresiasi tahunan adalah suatu persentase yang tetap dari nilai buku awal tahun. Mengalikan nilai buku tahun sebelumnya dengan suatu faktor yang lebih kecil dari pada 1
Depresiasi suatu aktiva tetap dilihat dari anggapan bahwa aktiva tetap baru sangat besar peranannya dalam usaha mendapatkan penghasilan, peranan aktiva tetap tersebut semakin lama semakin mengecil seiring dengan semakin tuanya aktiva tetap tersebut. Nilai sisa atau nilai residu tidak diikutsertakan dalam perhitungan. Satu-satunya metode depresiasi yang menggunakan nilai buku.
Pembelian melewati tanggal 15 bulan berjalan, depresiasi dihitung pada bulan berikutnya.
Rumus Depresiasi Saldo Menurun :
= { (100%/umur ekonomis) x 2 } x Nilai Perolehan/Nilai Buku

Ilustrasi : PEMBELIAN AWAL TAHUN

CV. Matahari Fajar membeli peralatan pada tanggal 3 Januari 2007 seharga Rp. 50.000.000,- dengan nilai sisa diperkirakan sebesar 5% dari harga perolehan. Umur ekonomis 4 tahun ( nilai sisa tidak digunakan hanya jebakan saja).

Depresiasi 2007 ={ ( 100% /4) x 2 } x Rp. 50.000.000

= Rp. 25.000.000,-

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2007 :
D : Beban Depresiasi-Peralatan= Rp. 25.000.000,-
K : Akumulasi Depresiasi-Peralatan========Rp. 25.000.000

Depresiasi 2008 = 50% x ( Rp. 50 jt – 25 jt ) = Rp. 12.500.000

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2008 :
D : Beban Depresiasi-Peralatan=Rp. 12.500.000
K : Akumulasi Depresiasi-Peralatan========Rp. 12.500.000

Depresiasi 2009 = 50% x (Rp 50 jt-25jt-12,5jt) = Rp. 6.250.000

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2009 :
D : Beban Depresiasi-Peralata=Rp. 6.250.000
K : Akumulasi Depresiasi-Peralatan========Rp. 6.250.000

Depresiasi 2010 = Rp.50 jt – 25jt-12,5jt-6,25jt = Rp. 6.250.000

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2010 :
D : Beban Depresiasi-Peralatan=Rp. 6.250.000
K : Akumulasi Depresiasi-Peralatan========Rp.6.250.000

Ilustrasi : PEMBELIAN TAHUN BERJALAN

UD. Halimun Pagi membeli mesin bubut pada tanggal 23 September 2006 seharga Rp. 30.000.000 umur 4 tahun.

Depresiasi 2006 = {(100%/4)x 2 } x 3/12 x Rp.30.000.000 = Rp. 3.750.000

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2006 :
D : Beban Depresiasi-Mesin Bubut=Rp. 3.750.000,-
K : Akumulasi Depresiasi-Mesin Bubut=======Rp. 3.750.000,-

Depresiasi 2007 = 50% x (Rp. 30jt-3,75jt) = Rp.13.125.000

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2007 :
D : Beban Depresiasi-Mesin Bubut=Rp. 13.125.000
K : Akumulasi Depresiasi-Mesin Bubut=======Rp. 13.125.000

Depresiasi 2008 = 50% x ( Rp.30jt-3,75jt-13,125jt)= Rp. 6.562.500

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2008 :
D : Beban Depresiasi-Mesin Bubut=Rp. 6.562.500
K : Akumulasi Depresiasi-Mesin Bubut=======Rp. 6.562.500

Depresiasi 2009= 50% x (Rp.30jt-3,75jt-13,125jt-6,5625jt)=Rp. 3.281.250

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2009 :
D : Beban Depresiasi-Mesin Bubut=Rp. 3.281.250
K : Akumulasi Depresiasi-Mesin Bubut=======Rp. 3.281.250

Depresiasi 2010 = Rp. 3.281.250 ( sisanya saja)

Jurnal pada tanggal 30 September 2010 :
D : Beban Depresiasi-Mesin Bubut=Rp. 3.281.250
K : Akumulasi Depresiasi-Mesin Bubut=======Rp3.281.250


 Metode Sum-of-the-Years-Digits (SYD)
Untuk menghitung deduksi depresiasi dengan metode SYD, angka-angka yang berkaitan dengan angka untuk setiap umur tahun yang diizinkan berada dalam urutan pertama dalam urutan yang terbalik.kemudian, jumlah dari angka-angka itu ditentukan.Faktor depresiasi untuk setiap tahun merupakan angka dari daftar urutan terbalik untuk tahun tersebut dibagi dengan jumlah angkanya. Digit yang digunakan pada metode SYD adalah sisa umur manfaat dari aset. Faktor depresiasi adalah sisa umur aset dibagi dengan jumlah total digit.
Contoh:

Tahun
Angka Tahunan Dalam urutan terbalik (digits)
Faktor Depresiasi SYD
1
5
5/15
2
4
4/15
3
3
3/15
4
2
2/15
5
1
1/15
Jumlah Angka
15


Depresiasi untuk setiap tahun adalah hasil dari faktor depresiasi SYD untuk tahun tersebut dan selisih antara cost basis (B) dan estimasi akhir SV.
2.4              Keseimbangan Menurun yang dialihkan ke Garis Lurus
Karena metode keseimbangan menurun tidak pernah mencapai BV yang nol, maka di perbolehkan untuk pindah dari metode ini ke metode garis lurus sehingga SVN aset akan menjadi nol (atau jumlah-jumlah lain yang diingnkan). Metode ini juga digunakan untuk mengkalkulasi tingkat pemulihan MACRS.
2.5              Metode Produksi-Unit
Semua metode depresiasi yang di bahas di sini berdasarkan pada waktu yang sudah lewat (tahun) yang mana teori tersebut menyatakan  bahwa nilai barang yang menurun sebagian besar merupakan fungsi dari waktu. Apabila penurunan nilai kebanyakan dari fingsi penggunaan, depresiasi berdasarkan dari metodenya mungkin tidak tercermin dalam entuk tahun. Metode produksi-unit biasa digunakan dalam kasus seperti ini.





Sumber : http://sulistyo-widodo.blogspot.com/2012/03/teori-depresiasi-metode-dalam.html