Semester 2 Softskill


ANALISIS SENSITIVITAS & TITIK IMPAS

ANALISIS SENSITIVITAS

Analisis sensitivitas merupakan analisis yang berkaitan dengan perubahan diskrit parameter untuk melihat berapa besar perubahan dapat ditolerir sebelum solusi optimum mulai kehilangan optimalitasnya. Jika suatu perubahan kecil dalam parameter menyebabkan perubahan drastis dalam solusi, dikatakan bahwa solusi sangat sensitive terhadap nilai parameter tersebut. Sebaliknya, jika perubahan parameter tidak mempunyai pengaruh besar terhadap solusi dikatakan solusi relative insensitive terhadap nilai parameter itu.
Dalam membicarakan analisis sensitivitas, perubahan-perubahan parameter dikelompokan menjadi:
1. Perubahan koefisien fungsi tujuan
2. Perubahan konstan sisi kanan
3. Perubahan batasan atau kendala
4. Penambahan variable baru
5. Penambahan batasan atau kendala baru.
Nilai-nilai parameter dalam studi ekonomi teknik biasanya diestimasikan besarnya, akibatnya nilai-nilai tersebut mempunyai factor kesalahan. Mungkin lebih besar atau lebih kecil dari hasil estimasi yang diperoleh atau berubah pada saat-saat tertentu. Perubahan yang terjadi pada nilai-nilai parameter akan mengakibatkan perubahan pada hasil yang ditunjukkan oleh suatu alternative investasi. Perubahan ini memungkinkan keputusan akan berubah dari satu alternative ke alternative yang lain.
Apabila berubahnya factor-faktor atau parameter-parameter tersebut mengakibatkan berubahnya suatu keputusan, maka keputusan tersebut dikatakan sensitive terhadap perubahan nilai parameter atau factor tersebut.
Untuk mengetahui seberapa sensitive suatu keputusan terhadap perubahan faktor atau parameter yang mempengaruhinya maka setiap pengambilan keputusan seharusnya disertai dengan analisa sensitivitas. Analisa sensitivitas akan memberikan gambaran sejauh mana suatu keputusan akan konsisten meskipun terjadi perubahan factor-faktor atau parameter-parameter yang mempengaruhinya.
Analisa sensitivitas dilakukan dengan mengubah nilai suatu parameter pada suatu saat untuk selanjutnya dilihat bagaimana pengaruhnya terhadap akseptabilitas suatu alternative investasi. Parameter-parameter yang biasanya berubah dan perubahannya dapat mempengaruhi keputusan adalah biaya investasi, aliran kas, nilai sisa, tingkat bunga, tingkat pajak, dan sebagainya.
ANALISIS TITIK IMPAS

Pengertian Analisis Titik Impas (Break Even Point / BEP)
Dalam rangka memproduksi atau menghasilkan suatu produk, baik brang maupun jasa, perusahaan terkadang perlu terlebih dulu merencanakan berapa besar laba yang ingindiperoleh.Artinya dalam hal ini besar laba merupakan prioritas yang harus dicapai perusahaan,disamping hal-hal lainnya. Agar perolehan labih mudah ditentukan, salah satu caranyaadalah perusahaan harus mengetahui terlebih dulu berapa titik impasnya. Artinya perusahaan beroperaso pada jumlah produksi atau penjualan tertentu sehingga perusahaantidak mengalami kerugian ataupun keuntungan.Analisis titik impas atau analisis pulang pokok atau dikenal dengan nama analisis
 Break  Even Point 
(BEP) merupakan salah satu analisis keuangan yang sangat penting dalam perencanaan keuangan perusahaan.Analisis titik impas sering disebut analisis perencanaan laba (profit planning). Analisis ini biasanya lebih sering digunakan apabila perusahaan ingin mengeluarkan suatu produk  baru. Artinya dalam memproduksi produk baru tentu berkaitan dengan maslah biaya yangharus dikeluarkan, kemudian penentuan harga jual serta jumlah barang atau jasa yangakan diproduksi atau dijual kekonsumen.Analisis BEP digunakan untuk mengetahui pada titik berapa hasil penjualan samadengan jumlah biaya. Atau perusahaan beroperasi dalam kondisi tidak laba dan tidak rugi, atau laba sama dengan nol. Melalui titik BEP, kita akan dapat mengetahui bagaimana hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan(penjualan atau produksi). Oleh karena itu, analisis ini juga sering disebut dengan nama
cost profit volume analysis.
Analisis BEP juga memberikan pedoman tentang berapa jumlah produk minimal, yangharus diproduksi atau dijual. Tujuannya adalah agar perusahaan mampu memperolehkeuntungan yang maksimal. Artinya dengan memproduksi sejumlah barang dengankapasitas produksi yang dimilikinya, perusahaan akan tahu batas minimal yang harusdijual dan keuntungan maksimal yang diperoleh apabila diproduksi secara penuh.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa arti analisis BEP adalah suatu keadaan dimana perusahaan beroperasi dalam kondisi tidak memperoleh pendapatan (laba) dantidak pula menderita kerugian. Artinya dalam kondisi ini jumlah pendapatan yangditerima sama dengan jumlah biaya yang dikeluarkan. Lebih lanjut harus dijual agar kitamemperoleh keuntungan, baik dalam volume penjualan dalam unit maupun rupiah.
Tujuan Analisis Titik Impas / BEP
Penggunaan analisis BEP memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai, yaitu :
1.mendesain spesifikasi produk 
2.menentukan harga jual persatuan
3.menentukan jumlah produksi atau penjualan minimal agar tidak mengalamikerugian
4.memaksimalkan jumlah produksi5.merencanakan laba yang diinginkan.
Disamping memiliki tujuan dan mampu memberikan manfaat yang cukup banyak bagi pemimpin perusahaan, analisis BEP juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu :
1.perlu asumsi, terutama mengenai hubungan antara biaya dengan pendapatan
2.bersifat statis, artinya analisis ini hanya digunakan pada titik tertentu, bukan padasuatu periode tertentu.
3.tidak digunakan untuk mengambil keputusan akhir, analisis BEP hanya baik digunakan jika ada penentuan kegiatan lanjutan yang dapat dilakukan.
4.tidak menyediakan pengujian aliran kas yang baik, artinya jika aliran kas telahditentukan melebihi aliran kas yang harus dikeluarkan, proyek dapat diterima danhal-hal lainnya dianggap sama.
5.kurang memperhatikan resiko-resiko yang terjadi selama masa penjualan,misalnya kenaikan harga bahan baku.


Asumsi dan Keterbatasan Analisis BEP
Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa satu kelemahan analisis BEP adalah karena banyaknya asumsi yang mendasari analisis ini. Akan tetapi, asumsi-asumsi ini memangharus dilakukan jika kita mau analisis ini dapat dilakukan secara tepat. Kemudian denganasumsi-asumsi ini, analisis BEP dapat dilakukan secara cepat dan akurat. Hanya sajaasumsi-asumsi yang dilakukan terkadang terlalu memaksa dan pertanggungjawabannyasering diambangkan. Oleh karena itu para manager menganggap bahwa asumsi ini harustetap dilakukan dan ini merupakan salah satu keterbatasan analisis BEP bila kita maumenggunakannya.Adapun asumsi-asumsi dan keterbatasan analisis BEP adalah sebagai berikut :
1.    Biayadalam analisis BEP, hanya digunakan dua macam biaya, yaitu fixed cost  dan variablecost. Oleh karena itu, kita harus memisahkan dulu komponen antara biaya tetap dan biaya variabel. Artinya mengelempokkan biaya tetap disatu sisi dan biaya variabeldisisi lain. Dalam hal ini secara umum untuk memisahkan kedua biaya ini relatif sulitkarena ada biaya yang tergolong semi variabel dan tetap.
Untuk memisahkan biayaini dapat dilakukan melalui dua pendekatan sebagai berikut :

a.pendekatan analitis, yaitu kita harus meneliti setiap jenis dan unsur biaya yangterkandung satu per satu dari biaya yang ada beserta sifat-sifat biaya tersebut. b.Pendekatan historis, dalam hal ini yang harus dilakukan adalah memisahkan biayatetap dan variabel berdasarkan angka-angka dan data biaya masa lampau.

2.       Biaya tetap (Fixed Cost ). Biaya tetap merupakan biaya yang secara total tidak mengalami perubahan,walaupun ada perubahan volume produksi atau penjualan (dalam batas tertentu). Artinya kita menganggap biaya tetap konstan sampai kapasitas tertentu saja, biasanyakapasitas produksi yang dimiliki. Namun, untuk kapasitas produksi bertambah, biayatetap juga menjadi lain. Contoh biaya tetap adalah seperti gaji, penyusutan aktivatetap, bunga, sewa atau biaya kantor dan biaya tetap lainnya.

 
3.      Biaya variabel (Variable Cost )
Biaya variable merupakan biaya yang secara total berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume produksi atau penjualan. Artinya asumsi kita biaya variabel berubah-ubah secara sebanding (proporsional) dengan perubahan volume produksiatau penjualan. Dalam hal ini sulit terjadi dalam praktiknya karena dalam penjualan jumlah besar akan ada potongan-potongan tertentu, baik yang diterima maupundiberikan perusahaan . contoh biaya variabel biaya variabel adalah biaya bahan baku,upah buruh langsung, dan komisi penjualan biaya variabel lainnya.4. Harga JualHarga jual maksudnya dalam analisis ini hanya digunakan untuk satu macam harga jual atau harga barang yang dijual atau diproduksi.5. Tidak Ada Perubahan Harga JualArtinya diasumsikan harga jual per satuan tidak dapat berubah selama periodeanalisis. Hal ini bertentangan dengan kondisi yang sesungguhnya, dimana harga jualdalam suatu periode dapat berubah-ubah seiring dengan perubahan biaya-biayalainnya yang berhubungan langsung dengan produk maupun tidak.

                                                                                       
Sumber :
http://ml.scribd.com/doc/21097489/Analisis-BEP
http://aliffathurrochman12.blogspot.com/2010/01/analisis-sensitivitas.html















DEPRESIASI


Depresiasi adalah penurunan dalam nilai fisik properti seiring dengan waktu dan penggunaannya. Dalam konsep akuntansi, depresiasi adalah pemotongan tahunan terhadap pendapatan sebelum pajak sehingga pengaruh waktu dan penggunaan atas nilai aset dapat terwakili dalam laporan keuangan suatu perusahaan. Depresiasi adalah biaya non-kas yang berpengaruh terhadap pajak pendapatan.

Properti yang dapat didepresiasi harus memenuhi ketentuan berikut:
1. Harus digunakan dalam usaha atau dipertahankan untuk menghasilkan pendapatan.
2. Harus mempunyai umur manfaat tertentu, dan umurnya harus lebih lama dari setahun.
3. Merupakan sesuatu yang digunakan sampai habis, mengalami peluruhan/ kehancuran,
     usang, ataumengalami pengurangan nilai dari nilai asalnya.
4. Bukan inventaris, persediaan atau stok penjualan, atau properti investasi.

Properti yang dapat didepresiasi dikelompokkan menjadi:
v  Nyata (tangible): dapat dilihat atau dipegang. Terdiri dari properti personal (personal property) seperti mesin-mesin, kendaraan, peralatan, furnitur dan item-item yang sejenis; dan properti riil (real property) seperti tanah dan segala sesuatu yang dikeluarkan dari atau tumbuh atau berdiri di atas tanah tersebut.
v   Tidak nyata (intangible). Properti personal seperti hak cipta, paten atau franchise.


Manfaat Depresiasi :

1.      Dapat dipergunakan untuk mengetahui nilai suatu asset sesuai dengan waktu.
2.      Dapat dipergunakan untuk mengalokasikan depresiasi (accounting depreciation) nilai asset tersebut. Pengaloasian tersebut dipergunakan untuk menjamin bahwa asset yang telah diinvestasikan dapat diperoleh kembali setelah masa layannya selesai.
3.      Dengan depresiasi dapat dipergunakan untuk pengurangan pengenaan pajak dengan jalan bahwa asset yang diinvestasikan diperhitungkan sebagai biaya produksi, sehingga hal ini berkaitan dengan pajak.


A. Istilah-Istilah

v  Basis, atau basis harga: biaya awal untuk mendapatkan aset (harga beli ditambah pajak), termasuk biayatransportasi dan biaya lain sampai aset tersebut dapat digunakan sesuai fungsinya.
v  Basis (harga) yang disesuaikan: harga awal aset disesuaikan dengan kenaikan atau penurunan yang diperkenankan. Misal: biaya perbaikan aset dengan umur manfaat lebih dari setahun meningkatkan basis harga awal, dan kecelakanna atau kecurian menurunkan harga awal.
v  Nilai (harga) buku: nilai properti (aset) sesuai dengan laporan akuntansi, yang mewakili jumlah modal yang masih diinvestasikan pada aset tersebut. Sama dengan harga awal (termasuk segala penyesuaian) dikurangi dengan pengurangan karena depresiasi. Nilai buku suatu aset pada akhir tahun ke-k dirumuskan dengan:


v  Harga pasar: nilai yang dibayar seorang pembeli kepada penjual aset dimana masing-masing mendapatkan keuntungan dan bertindak tanpa paksaan.
v  Periode perolehan kembali (recovery period): jumlah tahun dimana basis (harga) suatu aset diperoleh kembali melalui proses akuntansi. Disebut juga umur manfaat (klasik) atau kelas properti atau umur kelas.
v  Tingkat perolehan kembali: persentase untuk setiap tahun periode perolehan kembali, yang digunakan untuk menghitung pengurangan karena depresiasi tahunan.
v  Nilai sisa: perkiraan nilai aset pada akhir umur manfaatnya, merupakan harga jula suatu aset jika tidak lagi digunakan untuk proses produksi oleh pemiliknya.
v  Umur manfaat: perkiraan periode waktu pemakaian aset (properti) dalam kegiatan produktif atau untuk menghasilkan pendapatan.


B. Metode Perhitungan Depresiasi

Secara umum, metode perhitungan depresiasi dibagi dua, yaitu:
1. Metode klasik, terdiri dari:
a. Metode garis lurus (straight-line, SL)
b. Metode declining balance (DB)
c. Metode sum-of-the-years-digits (SYD)
2. Sistem perolehan biaya dipercepat termodifikasi (Modified Accelerated Cost Recovery System, MACRS)

Kita hanya akan membahas 3 metode klasik saja

1 Metode Garis Lurus
Metode ini mengasumsikan bahwa aset terdepresiasi secara konstan setiap tahunnya selama umur manfaatnya.
                                       


dimana:
N = umur manfaat
B = basis harga, termasuk penyesuaian
dk = pengurangan depresiasi pada tahun ke k (1 ≤ k ≤ N)
BVk = nilai buku pada akhir tahun ke k
SVN = perkiraan nilai sisa pada akhir tahun ke N
d*k= depresiasi kumulatif selama tahun ke k

Contoh :

Tenda yang digunakan oleh tukang sate mempunyai basis harga Rp 200,000 dan umur pakainya 3 tahun. Pada akhir umur manfaatnya tidak mempunyai nilai sisa. Tentukan jumlah depresiasi tahunan menggunkan metode garis lurus. Tabelkan jumlah depresiasi tahunan dan nilai buku alat tersebut pada setiap akhir tahun.

Penyelesaian:
Contoh perhitungan untuk tahun kedua:



Tabulasi depresiasi dan nilai buku setiap tahunnya:
Akhir Th.
Ke-k
dk
BVk
0
-
Rp 200,000
1
Rp 66,666
Rp 133,333
2
Rp 66,666
Rp 66,666
3
Rp 66,666
0





2 Metode Declining Balance
Disebut juga metode persentase konstan atau formula Matheson, dengan asumsi bahwa biaya depresiasi tahunan adalah suatu persentase yang tetap dari nilai buku awal tahun. Rasio depresiasi tersebut dilambangkan dengan R (0 ≤ R ≤ 1), dimana R = 2/N (jika digunakan 200% DB) atau R = 1.5/N (jika digunakan 150% DB).
Persamaan- persamaan yang berlaku untuk metode DB:


Kelima persamaan tidak memuat term SV (nilai sisa).

Contoh :

Gerobak yang digunakan oleh tukang Gado-gado mempunyai basis harga Rp 2,000,000 dan umur pakainya 3 tahun. Tentukan depresiasi dengan metode declining balance jika (a) R=2/N dan (b) R=1.5/N

Penyelesaian:
Contoh perhitungan untuk tahun ke-2.

(a)

(b)


Depresiasi dan nilai buku tahunan untuk R = 2/N = 0.67 diperlihatkan pada tabel berikut:

Akhir Th.
Ke-k
dk
BVk
0
-
Rp 2,000,000
1
Rp 1,340,000
Rp 660,000
2
Rp 442,200
Rp 217,800
3
Rp 145,926
Rp 71,874









3 Metode Sum-of-the-Years-Digits (SYD)
Digit yang digunakan pada metode SYD adalah sisa umur manfaat dari aset. Faktor depresiasi adalah sisa umur aset dibagi dengan jumlah total digit. Contoh untuk aset dengan umur manfaat 5 tahun:

Tahun, k
Sisa umur aset
Faktor depresiasi SYD
1
5
5/15
2
4
4/15
3
3
3/15
4
2
2/15
5
1
1/15
Jumlah digit = 15


Persamaan umum untuk mencari biaya depresiasi tahunan:


 Nilai buku pada akhir tahun ke-k:


Depresiasi kumulatif pada tahun ke-k:

d*k = B - BVk


Contoh :

Peralatan masak pada sebuah restoran mempunyai basis harga Rp 500,000 dan umur manfaat 2 tahun. Tabulasikan depresiasi tahunan dan nilai buku akhir tahunnya.

Penyelesaian:
Contoh perhitungan untuk tahun pertama:
Depresiasi dan nilai buku tahunan:

Akhir Th.
Ke-k
dk
BVk
0
-
Rp 500,000
1
Rp 333,333
Rp 166,666
2
Rp 166,666
Rp 0





Sumber :
http://staff.ui.ac.id/internal/132161170/material/ekotek_depresiasi.pdf
http://tugasyusuf.blogspot.com/p/depresiasi.html